Berita

10 November Hari Pahlawan

10 NOVEMBER
HARI PAHLAWAN

Oleh : Kolonel Caj Drs. H. Sutanto
Kasubdisbindoklistaka Disjarahad


1.    Pengantar.
Pada setiap tanggal 10 Nopember, Bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan dengan melaksanakan upacara  dan kegiatan lainya dengan maksud dan tujuan untuk mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan bangsa yang telah berjuang baik jiwa maupun raga untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini selaras dengan petuah para pendahulu kita terutama dari bapak proklamator Bung Karno bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.
Dilain pihak mungkin masih ada diantara masyarakat Bangsa Indonesia belum mengetahui dan masih bertanya-tanya, mengapa 10 Nopember 1945 (Peristiwa pertempuran Surabaya) diperingati sebagai hari pahlawan, apakah peristiwa-peristiwa pertempuran lainya tidak berdemensi kepahlawanan karena di daerah-daerah lainpun secara serentak dalam waktu yang hampir bersamaan bangkit bertempur melawan Sekutu dan Belanda. Oleh karena uraian dibawah ini mudah-mudahan dapat  menjawab mengapa peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya dijadikan momentum hari pahlawan.

2.   Pertempuran awal mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan mulai berdiri sebagai negara yang merdeka bersatu berdaulat lepas dari belenggu penjajahan. Dukungan dan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia segera diberikan oleh negara-negara lain seperti Mesir, India dan Australia, namun tidak demikian halnya dengan Pemerintah Belanda, setelah merasa nyaman menjajah Indonesia selama kurang lebih 350 tahun dan dapat mengeruk keuntungan yang sangat besar dibandingkan daerah jajahan lainya di Afrika dan Amerika Latin maka Belanda tidak mau melepaskan penjajahanya atas Indonesia bahkan mencari cara untuk dapat kembali menguasai Indonesia.
Seperti gayung bersambut upaya Belanda untuk kembali berkuasa di Indonesia mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Inggris setelah kedua pemerintahan yang sama sama duduk di Blok Sekutu tersebut bertemu di Kota kecil Chaquers bagian selatan Inggris pada tanggal 24 Agustus 1945  yang pada intinya berisi kesanggupan Pemerintah Inggris untuk membantu mengembalikan kekuasaan Belanda atas Indonesia. Selanjutnya pada bulan September  sd Oktober 1945 Inggris telah berhasil mendaratkan tentaranya di Banjarmasin, Makasar, Jakarta, Bandung dan Surabaya kemudian Palembang Semarang dan juga Medan.
Kedatangan Tentara Inggris tersebut pada awalnya diterima baik oleh rakyat Indonesia karena mengemban misi tentara Sekutu untuk melindungi dan mengungsikan tawanan-tawanan perang, selain itu juga untuk melucuti dan memulangkan tentara Jepang yang kalah perang melawan Sekutu. Pada kenyataanya kedatangan tentara Inggris membawa serta orang-orang Belanda yang tergabung kedalam “Netherlands Indies Civil Administration“ (NICA), yang kemudian diganti dengan “Allied Military Administration Civil Affair Branch” (AMACAB)  Akibatnya rakyat indonesia bangkit secara serentak melawan Sekutu yang melakukan provokasi dan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia serta memerintahkan kepada tentara Jepang untuk menangkap pemimpin-pemimpin Republik Indonesia. Pertempuran dan insiden-insiden dengan tentara Jepang dan tentara sekutu tak terhindarkan. Pertempuran demi pertempuran mulai pecah di berbagai tempat antara lain di Semarang, Surabaya, Ambarawa, Medan Area, Bandung, Palembang dan Makasar serta di tempat-tempat lain dalam pertempuran bersekala kecil seperti pertempuran Serpong, Bojong Kokosan, Peristiwa Merah Putih di Menado. Pertempuran-pertempuran inilah yang merupakan pertempuran awal menegakan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang memunculkan tokoh-tokoh dan pejuang sejati yang gagah berani melawan tentara sekutu demi tegaknya NKRI.

3.    Pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945 .
a.    Pendaratan Tentara Sekutu di Surabaya.   Pada tanggal 29 September 1945 Tentara Sekutu mendarat di Jakarta dibawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christision sebagai Panglima Besar Tentara Pendudukan Sekutu (Allied Forces in Netherlands East-Indies) atau disingkat AFNEI yang membawahi tiga Divisi terutama untuk Jawa Timur, Inggris mengerahkan Divisi ke 5 India (5 th Indian Division) dibawah pimpinan Jenderal Mayor E.C. Mansergh.
Pendaratan tentara Sekutu di Surabaya    baru dilakukan pada tanggal 25 Oktober 1945 dengan mengerahkan satu Brigade yaitu Brigade ke-49 Divisi ke-23  dibawah pimpinan Brigadir Jenderal Mallaby berkekuatan 6000 Orang.
Sebelum tentara sekutu mendarat di Surabaya tepatnya tanggal 3 September 1945 Angkatan Muda Surabaya telah memproklamirkan berdirinya Pemerintahan Republik Indonesia untuk Karesidenan Surabaya dipimpin oleh Pak Sudirman dan siap membantu Sekutu untuk melucuti tentara Jepang. Sementara itu orang-orang Belanda (NICA) telah berhasil menyusup masuk ke Surabaya terlebih dahulu dengan mengatasnamakan sekutu dan berusaha untuk mencegah penyerahan senjata Jepang kepada Arek-arek Suroboyo. Sejak saat itu insiden demi insiden sering terjadi diantaranya pada tanggal 19 September 1945 terjadi Insiden Tunjungan atau lebih terkenal dengan insiden Hotel “Yamato” (Hotel “Oranje”) yang diakibatkan fihak NICA (Belanda) telah mengibarkan bendera Belanda di puncak Hotel tersebut. Melihat hal tersebut Arek-arek Suroboyo beramai-ramai naik keatas hotel dan menurunkan bendera Belanda dengan merobek warna birunya dan dikibarkan kembali dengan megahnya  bendera itu dengan dwi warna, yaitu Merah Putih.
Setelah insiden Hotel Yamato tersebut, NICA yang dipelopori oleh Roelofsen dan Kapten Laut Huijer serta Residen Maassen mulai menggunakan tentara Jepang untuk menindas gerakan kemerdekaan Indonesia sampai datangnya tentara sekutu ke Surabaya pada tanggal 25 September 1945.
Dengan kedatangan Sekutu tersebut maka mulai diadakan perundingan antara kedua belah pihak dan hasil perundingan tersebut, pihak sekutu siap turut serta menjaga keamanan kota. Pada kenyataanya Tentara Sekutu justru melakukan hal-hal yang telah disepakati bersama antara lain dengan mengganggu ketertiban umum antara lain merampas mobil yang sedang dipakai dan berani menurunkan bendera merah putih bahkan fasilitas gedung yang telah menjadi milik RI dirampas oleh Sekutu dan juga Sekutu mengancam agar senjata-senjata yang dimiliki oleh pihak kita harus diserahkan kepada Sekutu dan hal tersebut tentu tidak dapat ditolerir oleh Arek-arek Suroboyo sehingga pertempuran dengan Sekutu tidak dapat dihindari.

b.    Brigadir Jenderal Mallaby tewas.    Tanggal 27 Oktober 1945 tentara Sekutu yang diperkuat oleh tentara Indianya (Gurkha) mulai menduduki tempat-tempat penting yang telah dikuasai Indonesia. Tanggal 28 Oktober 1945 Sekutu melakukan pengepungan terhadap lapangan terbang PAOS (Penerbangan Angkatan Oedara Surabaya) dan berhasil mengambil alih tempat tersebut. Kemudian mereka berusaha untuk menduduki RRI Surabaya maka pertempuran tak terelakan lagi pasukan TKR didukung arek-arek Suroboyo dengan semangat “Merdeka atau mati” siap bertempur melawan Sekutu. Pertempuran semakin berkobar di daerah Kayoon, Jembatan Wonokromo, sekitar Kebun Binatang dan di tempat-tempat lainya. Pasukan kita dengan perlengkapan senjata seadanya ditambah senjata-senjata  rampasan dari Jepang mampu mengimbangi senapan dan meriam Belanda, bahkan Pasukan TKR dan Arek-arek Suroboyo berhasil mengepung Pasukan Sekutu dari Brigade 49 yang terdiri kurang lebih 6000 tentara yang pada waktu itu belum didukung kekuatan laut dan udaranya sehingga hal ini menguntungkan pihak kita karena kita lebih menguasai medan.
Menghadapi hal tersebut, Markas Besar Tentara Inggris di Jakarta meminta bantuan Bung Karno sebagai Pangti TKR untuk menghentikan pertempuran di Surabaya. Bung Karno menyanggupi dan kemudian berangkat menuju Surabaya tanggal 29 Oktober 1945 didampingi Wakil Presiden Bung Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syaripudin dan berhasil meredakan situasi. Setelah itu diadakan kesepakatan antara Bung Karno dan Bigadir Jenderal Mallaby yang pada intinya kedua belah pihak untuk sementara siap meletakan senjata dan bersama-sama memelihara keamanan dan ketertiban umum dan untuk menjalin koordinasi antara kedua belah pihak maka dibentuklah “Kontak Biro”
Ketika Kontak biro sedang merundingkan gencatan senjata terdengar kabar bahwa disekitar gedung Internatio yang terletak didekat jembatan merah berkobar pertempuran lagi karena tentara Inggris yang terkepung di gedung Internatio tidak mau mengindahkan genjatan senjata. Maka pada sore hari kontak biro bersama-sama dengan Brigadir jenderal Mallaby menuju gedung terjadilah rentetan tembakan dari dalam gedung dan pertempuran terjadi kembali. Pada saat pertempuran terjadi Komandan Brigade ke 49 Brigadir Jenderal Mallaby tewas tertembak yang hingga saat ini masih misteri  siapa yang menembak mati jenderal tersebut.

c.    Surabaya bergelora.    Dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby maka pihak Inggris pada tanggal 9 Nopember 1945 mengirimkan pasukannya dari Divisi ke-5 India dipimpin oleh Jenderal Mayor Mansergh mendarat di Surabaya dengan kekuatan 24.000 tentara dan memberikan ultimatum-ultimatum kepada pemimpin-pemimpin Indonesia, pemimpin Gerakan Pemuda Indonesia Surabaya, TKR dan Arek-arek Suroboyo harus melaporkan diri di Bataviaweg paling lambat tanggal 9 Nopember 1945 pukul 18.00. dengan posisi kedua tangan diatas dan juga harus menyerahkan senjata-senjata yang mereka miliki satu persatu. Apabila ultimatum tersebut tidak dipatuhi maka Inggris akan meluluh lantahkan Surabaya.
Ultimatum tersebut sangat menghina harga diri Bangsa Indonesia sehingga ditolak dan konsekwensinya pada tanggal 10 Nopember 1945 pukul 06.00 pagi pasukan sekutu menyerang Surabaya. Gerak maju Pasukan Inggris segera dihadapi oleh pasukan TKR dan Arek-arek Suroboyo dan seluruh masyarakat yang tinggal di Kota dari berbagai Suku bersatu padu melawan tentara Inggris sehingga tentara Inggris menderita kerugian yang cukup besar karena tidak menduga akan mendapat perlawanan sengit dari pihak kita.
Untuk menambah daya mampu pasukan Inggris terutama Angkatan Daratnya yang mengalami kesulitan menghadapi pasukan Indonesia, maka Inggris segera mengerahkan kekuatan Laut dan udaranya untuk menggempur Surabaya. Inggris mengerahkan Kapal Perang Cruisser “Sussex“ yang dilengkapi 4 Distroyers untuk memuntahkan  meriam-meriam dan rudalnya kearah Kota Surabaya, dan juga dengan kekuatan udaranya dengan mengerahkan 8 pesawat pembom udara “Thunderbolts” dan 4 pesawat “Mosquito”  untuk membombardir kota Surabaya sehingga akibatnya banyak jatuh korban baik tentara maupun masyarakat biasa terutama para wanita dan anak anak.
Dengan semboyan ”Merdeka atau Mati “ semua unsur pimpinan dari mulai Gubernur Suryo, Menteri Pertahanan Dr Mustopo, Ruslan Abdul Gani dan Bung Tomo pemimpin Barisan Pemberontak Republik Indonesia melalui Corong Radio Republik Indonesia Surabaya membakar semangat TKR, Para Pemuda, Arek-arek Suroboyo dan seluruh rakyat Surabaya untuk bangkit secara serentak melawan Inggris dengan teriakan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar “.
Dalam kondisi yang sangat kritis akibat gempuran kekuatan darat, udara dan Angkatan laut Inggris, pasukan kita tidak gentar bahkan pertempuran darat membuat pasukan Inggris terdesak dan kita berhasil menembak  jatuh 3 Pesawat musuh. Untuk itu Inggris mengerahkan 21 Tank ”Sherman” untuk memperkuat Angkatan Daratnya. Akibatnya pasukan kita yang telah bertempur habis-habisan selama 1minggu dengan gagah berani itu, pada tanggal 1 Desember 1945 mundur dari Surabaya kearah selatan menuju Wonocolo, Waru, Sidoarjo, Porong dan Gempol untuk menyusun pertahanan kembali. Pemunduran kearah barat yaitu menuju Gunung Sari, Kebrahon, sepanjang Driyo, Jetis dan Mojokerto.  Kearah utara pasukan kita menyusun pertahanan di Gresik dan Lamongan.  Dari tempat pemunduran inilah pasukan kita sering melakukan pengepungan dan penyusupan kearah kedudukan Inggris dan Belanda di Surabaya untuk membuat kekacauan dan rasa tidak aman bagi Inggris dan Belanda..

4.    10 Nopember sebagai hari pahlawan. Dengan tidak mengecilkan akan arti pentingnya peristiwa sejarah heroisme Bangsa Indonesia dan terlepas dari pengkultusan peristiwa Pertempuran Surabaya ada beberapa pertimbangan mengapa pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya dijadikan momentum peringatan hari Pahlawan.
a.    Simbolis.  Sebagai simbol atau tenger dari semua peristiwa heroisme  sejarah kepahlawanan Bangsa Indonesia yang terjadi diseluruh wilayah Nusantara dalam upaya menegakan dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekanan Republik Indonesia. Simbol ini sangat diperlukan sebagai lambang akan arti pentingnya jiwa dan semangat kepahlawanan para pendahulu kita yang bukan saja untuk dikenang melainkan dijadikan contoh atau teladani dan pelajaran bagi generasi penerus bangsa untuk ditegak hormati dan diterapkan serta dilaksanakan refleksi nilai-nilainya guna mengisi kemerdekaan dan membangun Bangsa dan Negara Indonesia tercinta ini.

b.    Nilai Heroisme yang sangat hebat.    Heroisme yang sangat hebat yang dilakukan oleh TKR dan Arek-arek Suroboyo dan juga oleh seluruh masyarakat Surabaya dengan semangat ”merdeka atau mati” mereka berjuang dengan gagah berani dengan peralatan persenjataan yang sangat terbatas mampu menghadapi tentara Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II dengan persenjataan lengkap didukung oleh kekuatan Angkatan Laut dan kekuatan udaranya ibaratnya seperti “Timun mungusuh Duren” (lawan yang tidak seimbang) tetapi ternyata Arek-arek Suroboyo tidak gentar maju terus bertempur melawan Tentara Inggris hingga hampir dalam waktu satu bulan bertempur, pasukan kita dapat mengimbangi serangan pasukan Inggris bahkan dapat memenangkan pertempuran. Pemunduran Pasukan TKR dan para pejuang Surabaya keluar kota bukan berarti kekalahan tetapi untuk menyusun pertahanan kembali guna melancarkan ofensif balas terhadap kedudukan pasukan Inggris dan belanda yang ada di kota Surabaya.

c.    Menewaskan Seorang Jenderal.    Dalam peperangan besar seperti Perang Dunia I tahun 1914 s.d. 1918 dan Perang Dunia ke II 1939 s.d. 1945 belum pernah terjadi  seorang Jenderal tertembak mati. Sedangkan di Indonesia selain di Surabaya dalam pertempuran di Bojongkokosan Sukabumi pejuang kita berhasil menewaskan komandan pasukan Inggris berpangkat Kolonel. Terlepas dari misteri tentang tewasnya Brigader Jenderal Mallaby di Surabaya yang jelas kematianya cukup menggemparkan Dunia karena Inggris cenderung mencurigai bahwa tewasnya Mallaby oleh pasukan kita dan menimbulkan kemarahan Inggris untuk segera menyudahi pertempuran di Surabaya dengan mengirimkan kekuatan darat, laut dan udara guna menggempur Surabaya.

d.    Kesemestaan Perjuangan.   Nilai kesemestaan dalam pertempuran Surabaya tanggal 10 Nopember 1945 terlihat dari pelibatan semua unsur dari mulai unsur Pimpinan,  Pemerintahan, Tentara, para Pemuda, Laskar-laskar bahkan sampai dengan penduduk kota Surabaya yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan agama ikut terlibat dalam pertempuran dan rela menjadi benteng-benteng hidup untuk melawan dan menghambat gerak maju pasukan Inggris dan mereka itulah yang banyak menjadi korban.

e.    Integritas nilai kepahlawanan yang lengkap.        Dari peristiwa pertempuran Surabaya terdapat nilai-nilai perjuangan atau Nilai Kepahlawanan yang lengkap antara lain nilai Ketaqwaan, Nilai Patriotik, nilai Ksatria, Pro patria, percaya kepada kekuatan sendiri, rela berkorban, Nilai persatuan dan kesatuan, loyalitas dan keikhlasan, pantang menyerah/tidak kenal menyerah, merdeka atau mati serta nilai kesemestaan.

f.    Pengakuan dari musuh.  Pertempuran Surabaya adalah merupakan pengalaman pahit bagi Inggris. Pengalaman ini ditulis oleh Divisi ke-23 tentara Inggris dalam buku kenang-kenanganya antara lain sebagai berikut : “The losses in this inferno were grievous enaugh” yang berarti “Kekalahan-kekalahan kita dalam neraka ini sangat menyedihkan”


5.    Penutup.    Peristiwa heroisme sejarah kepahlawanan bangsa Indonesia khususnya peristiwa pertempuran Surabaya  yang dijadikan momentum sebagai hari pahlawan memberikan refeksi nilai-nilai yang patut kita warisi dan masih  relevan dengan kondisi saat ini begitu pula dengan peristiwa heroisme Sejarah lainya semuanya sudah tergelar tinggal bagaimana kita dan para generasi muda Bangsa Indonesia menyikapinya agar nilai-nilai kepahlawanan tersebut dapat diimplementasikan dalam sikap dan prilaku atau tindakan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini disegani dan dihormati oleh Masyarakat Dunia.


Referensi
1.    Dinas Sejarah Angkatan Darat, 8 Palagan yang Menentukan, Bandung, 1985
2.    Dinas Sejarah Militer TNI-Angkatan Darat, Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI-Angkatan Darat, Fa Mahjuma, Bandung 1972.
3.    Direktur Urusan Kepahlawanan Dan Perintis Kemerdekaan, Album Pahlawan Bangsa, PT. Mutiara Sumber Widya, Jakarta 1999.










































Upaya Penanaman Nilai-nilai Kepahlawanan

UPAYA PNANAMAN JIWA KEPAHLAWANAN BAGI GENERASI MUDA
Drs. Muhammad Jaja
Mayor Caj NRP 1910005610964


Tiba lagi saatnya kita bertemu dengan Bulan peringatan Hari Pahlawan. Hiruk pikuk para pahlawan pada masa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang luar biasa, mereka mengorbankan dengan segala daya dan upaya baik pengorbanan; pisik, tenaga, pikiran, harta benda, jiwa dan raga sampai titik darah penghabisan mereka korbanka, dengan tujuan mreka terwujud kemerdekaan Imdonesia yang dicintainya. 
Hari ini pula para pemimpin bangsa menyepakati diangkatnya 7 tokoh dianugrahi atau mendapatkan sebagai pahlawan, demikian juga pada saat-saat tertentu dan sebagian  tokoh dengan memanfaatkan atributnya masing-masing mereka menjadikan masyarakat sebagai sarana perjuangannya, setiapkali punya kepentingan mereka mempertontonkan masyarakat sebagai bentuk  ‘sandiwara’ perjuangan dan kepahlawanan dari seorang calon legislatif.Pada waktu kampanye para calon legislatif berlomba-lomba untuk ‘bersandiwara’ menjadi orang yang paling dermawan, paling perhatian, paling bisa dipercaya, paling sadar terhadap nilai-nilai moral, dan paling siap untuk berjuang menegakkan nilai-nilai itu, paling pahlawan dalam membela kepentingan masyarakat. Namun begitu terpilih menjadi wakil masyarakat/ wakil rakyat kebanyakan lupa dengan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan. Dan tidak jarang nilai-nilai perjuangan moral itu berubah menjadi nilai-nilai materi saja. Atau bahkan ada yang bertujuan materi namun dibungkus dengan nilai-nilai moral kebangsaan. Masyarakatpun menjadi praktis, menggeser nilai-nilai moral kejuangan menjadi nilai-nilai materi “keuangan”, pertemanan dan kekeluargaan.
Ada masa yang menjadikan demokrasi  dibuat sandiwara oleh penguasa, nilai-nilai perjuangan dibelokkan sebagai legitimasi kekuasaan,  kini setelah reformasi pemilu dibuat sandiwara oleh rakyat; nilai-nilai perjuangan moral kebangsaan dibelokkan menjadi nilai-nilai materi ‘keuangan’, pertemanan atau kekeluargaan.
Ada Apa dengan nilai kebangsaan?
Schwartz (1994) mendefinisikan nilai sebagai berikut : Value as desireable transituational goal, varying in importance, that serve as guiding principles in the life of person or other social entity.
Apa itu “Nilai” ??? Nilai  adalah suatu tujuan akhir yang di inginkan, mempengaruhi tingkah laku, yang digunakan sebagai prinsip atau panduan dalam hidup seseorang atau masyarakat. Bisa dikatakan bahwa Nilai-nilai pada hakikatnya merupakan sejumlah prinsip yang dianggap berharga dan bernilai sehingga layak diperjuangkan dengan penuh pengorbanan. Jika seseorang hanya memperjuangkan nilai-nilai pribadi sering disebut indivudualis, namun jika seseorang memperjuangkan nilai-nilai sosial sering disebut pejuang atau pahlawan (orang yang banyak berbuat untuk kepentingan orang lain tentu ada pahalanya).
Nilai-nilai merupakan representasi dari kognitif dari persyaratan hidup manusia dan dapat bergeser karenanya. Empat tipe persyaratan itu yaitu :                   
1.    Panggilan Jiwa
2.    Kebutuhan individu sebagai organism
3.    Persyaratan interaksi sosial yang membutuhkan koordinasi interpersonal
4.    Tuntutan institusi sosial untuk mencapai kesejahteraan kelompok dan kelangsungan hidup kelompok. (Schwartz 1992,1994)
Bangsa Indonesia punya nilai-nilai Perjuangan
Mengkaji dan melihat definisi nilai tersebut, maka dalam konteks ke Indonesiaan, kita bisa menyebutkan bahwa nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan yang dapat mempersatukan bangsa ini terbagi menjadi tiga yaitu :
1.    Sebelum kemerdekaan nilai-nilai itu terangkum dalam istilah MERDEKA. Merdeka ini dianggap amat bernilai tinggi dan menjadikan wilayah jajahan  Hindia Belanda bersatu padu. Menghilangkan sisi-sisi perbedaan dan mengedepankan toleransi. Kata-kata merdeka begitu di rindukan oleh semua pihak, mulai dari gerakan Budi Utomo, Serikan Islam, Sumpah Pemuda dan perjuangan-perjuangan lokal yang lain.
2.    Saat Membela dan mempertahankan kemerdekaan, dengan tampilnya para pejuang kemerdekaan dengan mengatasnamakan laskar-laskar, pandu  dan lain sebagainya.

3.    Setelah merdeka di carilah semua kepentingan suku-bangsa ini melalui wakil-wakilnya dan semua sepakat untuk menjunjung tinggi kesamaan nilai-nilai yang terangkum dalam istilah  PANCASILA (lima sila/point). Suatu nilai dasar yang telah digali ini, diambil dari semua golongan yang ada dan kemudian ditetapkan sebagai dasar kesepahaman untuk bergabung dan menyatukan diri dalam suatu negara yaitu negara Indonesia. Lima Sila perjuangan yaitu :
1.    Ke Tuhaan Yang Maha Esa
2.    Kemanusiaan yang adil dan beradab
3.    Persatuan Indonesia
4.    Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5.    Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dari nilai-nilai kejuangan yang didasari rasa persatuan dan kesatuan serta  cinta ini muncul semangat juang dan semangat kepahlawanan: yaitu
1.    Rasa senasib sepenanggungan
2.    Rela berkorban/tanpa pamrih
3.    Teguh
4.    Ulet,
5.    Percaya diri.
6.    Gotong royong

Maka timbul pertanyaannya sekarang adalah
1.    Masihkah ke lima nilai tersebut menjadi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh segenap bangsa Indonesia?
2.    Bagaimanakah kondisi bangsa ini?
3.    Jika sudah terjadi pergeseran : nilai yang manakah yang telah bergeser?.
Dekradasi  Nilai Semangat Juang 45  Karena Termarjinalkan Pemahaman Nilai-nilai Perjuangan
Di tahun 1997 dengan lahirnya reformasi usaha pemahaman Ideologi bangsa menjadi pudar sebagai arus balik dari kejenuhan adanya  pemahaman ideologi bangsa yang dianggap monoton pada masa orde baru. Bahkan kini orang membaca dan berbicara Pancasila seakan malu-malu dan tanpa makna, tidak lebih hanya seremoni belaka.
Hubungan dengan nilai-nilai /penafsiran lama (P4) putus, tetapi belum tumbuh nilai penafsiran baru, sehingga muncul priode yang disebut oleh khoiri sebagai vakum keyakinan. Semangat juang tidak lagi berkobar, yang dominan dan yang hadir saat ini adalah semangat mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan.
Khususnya sila ke lima : keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; serasa sekarang ini jauh dari kenyataan. Yang kaya amatlah kaya dan yang miskin tidak punya apa-apa. Masyarakat menjadi semakin bingung dengan penyelenggaraan negara yang korup dan mempertinggi jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin.
Keadaan saat  seperti ini menjadikan tidak adalagi fokus perjuangan yang terarah dan jelas yang di perparah dengan adanya Globalisasi dan Otonomi daerah yang kehilangan orientasi sebagai tujuan perjuangan para pahlawan pendahulu pendiri bangsa.
1.    Globalisasi
Saat pamor idiologi bangsa merosot inilah, kita juga gagap menghadapi pusaran kuat globalisasi ekonomi pasar bebas sebagai bagian dari arus kapitalisasi yang menjunjung tinggi kekuatan materi.  Dalam kondisi semacam ini masyarakat menjadi bingung nilai-nilai apa yang akan dijunjung tinggi
Kita merasakan krisis multidimensional melanda kita, di bidang politik, ekonomi, hukum, nilai kesatuan dan keakraban bangsa menjadi longgar, nilai-nilai agama, budaya dan ideologi terasa kurang diperhatikan, terasa pula pembangunan material dan spiritual bangsa tersendat, discontinue, unlinier dan unpredictable.
Dalam keadaan seperti sekarang ini sering tampak perilaku masyarakat menjadi lebih korup bagi yang punya kesempatan, bagi rakyat awam dan rapuh tampak beringas dan mendemostrasikan sikap antisosial, antikemapanan, dan kontraproduktif serta goyah dalam keseimbangan rasio dan emosinya.

2.    Kemandirian atau Otonomi yang kehilangan orientasi
Tujuan Otonomi daerah atau kemandirian daerah sangat strategis dan bagus pada dasarnya  berorientasi mensejahterakan rakyat, dengan memberikan kelonggaran masing-masing daerah mengelola sumber dayanya sendiri ternyata justru banyak memunculkan nasionalisme etnis. Sentimen kedaerahan menonjol. bagi daerah yang mampu, kemampuan daerah dugunakan untuk mensejahterakan wilayahnya sendiri, namun bagi wilayah yang kurang mampu, kekurangannya tersebut digunakan untuk meminta bantuan dan belas kasihan pihak-pihak lain.  Masing-masing sibuk mengurus diri sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan nasional. Mimpi Negara modern yang bertumpu pada civic- nationalism direduksi kedalam spirit ethno nationalism. Solidaritas kebangsaan menurun, digeser oleh solidaritas primordial atas nama SARA.)  Jika terjadi musibah di suatu daerah, daerah lain tidak meresa terpanggil membantu, namun justru mengandalkan bantuan pusat dan lembaga-lembaga bantuan dunia.
Usaha Menanamkan Nilai-Nilai Perjuangan Kepahlawanan dalam rangka Peningkatan Persatuan dan Kesatuan Bangsa
1.    Penyadaran, pengenalan dan penafsiran kembali Ideologi terbuka Pancasila sebagai nilai-nilai yang harus diperjuangkan; dan Landasan Konstitusional UUD.45 sebagai garis perjuangan, pada seluruh lapisan masyarakat. Terutama pasal 5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bisa tajamkan kembali dan dijadikan fokus dalam perjuangan pasca reformasi. Apakah dengan cara pemberian jaminan hidup layak bagi semua rakyat meliputi hak-hak dasar papan, sandang, pangan dan keamanan ditambah jaminan pendidikan dan kesehatan. Inilah tujuan civic nationalism ataupun welfare society. Dimana
2.    Pemusatan kemandirian atau Otonomi daerah yang harus dikendalikan oleh nilai-nilai kebangsaan. Otonomi daerah harus di dasari oleh pemikiran bersama untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Di dalamnya terkandung terjaminnya kesejahteraan bersama.  Dalam konsep otonomi ini tidak mustakhil daerah yang makmur membantu daerah yang tergolong miskin atas dasar nilai-nilai keadilan sosial. Ada payung hukum yang mewajibkan daerah yang sudah makmur untuk membantu saudaranya di daerah yang masih miskin. Yang masih membutuhkan perhatian khusus.
3.    Pemusatan pendidikan yang dilandasi dengan kesadaran mencapai tujuan nasional. Pendidikan dikelola dan di isi dengan dasar pemberian keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak ada pembedaan antara sekolah bagi masyarakat mampu dan sekolah bagi masyarakat miskin, yang boleh membedakan hanyalah minat dan kemampuan siswa.
4.    Konstitusi yang mengabdi pada kepentingan bangsa.
Harus ditanamkan kesadaran bagi pembuat konstitusi agar mendasarkan diri pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Konstitusi jangan dijadikan sebagai tameng untuk memperkaya pribadi atau golongan. Jangan pula sebagai tameng melanggengkan kekuasaan.
5.    Politik yang dilandasi kepatuhan terhadap konstitusi. Yang telah disepakati.
Para pelaku politik harus diberi kesadaran keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sehingga dalam menjalankan politik tidak berlindung dibalik konstitusi dan tidak memutar balikkan konstitusi apalagi dengan sengaja melanggar konstitusi.
Dengan demikian dapat disebut bahwa para pejuang saat ini adalah mereka yang bersungguh-sungguh, rela berkorban, teguh pendirian ulet dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan mereka bisa perprofesi sebagai militer, pengusaha, pelajar,pejabat, guru, dosen dan apapun profesinya. Mereka yang dapat mengharumkan nama bangsa, mengangkat harkat dan martabat bangsa dimata dunia, dan yang membela kesejahteraan rakyat dengan di jiwai semangat kejuangan.pantang menyerah, bekerja Tanpa Pamrih; ada kalimat : “epiing pamrih rame ing gawe” sampai kapanpun itu masih tetap berlaku. Karena kita diciptan oleh Allah  SWT untuk mengabdi kepadaNya dan menjadi pelayan untuk sesamanya dimana saja bertugas dan berada, sebagai kholifah di muka bumi  ,
Inilah pahlawan bangsa pada era sekarang dan pada masa yang akan dating. Maka dengan demikian akan Allah turunkan ke muka bumi ini menjadi subur makmur loh jinawi, masyarakat akan aman dan  tentram.dalam menjalani kehidupannya sehari-hari tidak ada lagi tikus mati di lumbungpadi.




Turnamen HUT TNI

Dalam rangka memperingati HUT Tentara Nasional Indonesia yang ke 66 tahun 2011, Danlanud Husein akan menyelenggarakan Turnamen Bulutangkis "Danlanud Husein Cup III", yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 – 17 November 2011 di GOR Dislitbangau Lanud Husein Sastranegara.
Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ini Danlanud Husein mengundang tim bulutangkis satuan Dan / Dir / Ka untuk ikut berpartisipasi dalam turnamen tersebut. Adapun ketentuan / persyaratannya :

Selengkapnya...

Sejarah Kehidupan

MENCARI KEHIDUPAN YANG HAKIKI
Drs. Muhammad Jaja

Mayor Caj Nrp. 1910005610964
Sejarah adalah kebajikan. Ia adalah ilmu yang menjadi pangkal untuk memahami seluruh kehidupan manusia beserta peradaban yang sebenarnya. Belajarlah dari sejarah karena ia adalah guru yang akan membawa manusia kepada kearifan.
Sebuah pandangan yang diyakini oleh Prof Dr Djoko Suryo setelah pergulatannya selama puluhan tahun sebagai sejarawan. Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini mengatakan, begitu banyak nilai-nilai dan pelajaran yang bisa ditarik dari perjalanan kehidupan manusia dalam sejarahnya.
"Kalau orang mempelajari sejarah, berarti ia sedang mempelajari manusia dari segala dimensinya. Manusia yang sebenarnya itu lahir, hidup, berkembang, dan menghadapi perjalanan hidup, mengalami tantangan, dan bisa mencapai keberhasilan, tetapi juga bisa mengalami kegagalan. Dari situlah seluruh pelajaran hidup tersimpan,"
Pelajaran sejarah itu akan bisa ditarik makna dan nilainya sesuai apa yang manusia inginkan. Banyak hal yang bisa dipetik dari contoh- contoh pengalaman-pengalaman masyarakat masa lampau. Dari peperangan, dalam perjuangan kemerdekaan, bencana, ataupun perusakan lingkungan hingga mengakibatkan hancurnya peradaban masa lampau.
"Kita bisa memilih mana yang patut kita lakukan dan ditinggalkan karena tidak perlu ditiru. Dan juga, kita bisa melihat apa yang dilakukan masyarakat sekarang dan bagaimana berusaha melahirkan masyarakat masa depan, masyarakat seperti apa yang akan kita ciptakan. Sejarah mengajarkan proses kehidupan manusia dalam tiga dimensi-masa lalu, masa sekarang, dan melihat sejarah masa depan dari sejarah masa lalu," ujarnya.
Sayangnya, kini orang cenderung melihat masa kini dan melupakan sejarah, bahkan dari sejarah pribadinya. Orang pun menjadi tidak berpikir akan sejarah masa depan.
"Orang kini digoda oleh kekinian saja. Apa yang sekarang sedang tren. Mereka menjadi terbius, sehingga yang masa depan tidak terpikirkan. Akibatnya, orang merencanakan sesuatu hanya seadanya saja," katanya.
Sejarah kehidupan tersingkirkan. Manusia masa kini, menurut Djoko, cenderung kesulitan bahkan tidak bisa lagi merenung karena cepatnya perubahan zaman yang serba pragmatis. Anak-anak muda pun tidak sempat lagi merekam, merenungkan, dan merefleksikan apa yang sudah terjadi, sehingga orang cenderung cepat saja melupakan yang sudah terjadi.
"Peristiwa cepat lewat dan tergantikan peristiwa baru sehingga tidak sempat melihat apa yang sudah terjadi. Situasi itu mengakibatkan kita pun tidak mampu melahirkan pengetahuan dan pemahaman dari masa lampau. Akhirnya, kita tidak bisa belajar dari sejarah,".
Di sinilah, bidang ilmu-ilmu humaniora atau ilmu tentang kemanusiaan memiliki perannya. Humaniora mempelajari manusia menghadapi perubahan dalam setiap bentuknya, lambat atau cepat.
"Ilmu humaniora itu penting dipelajari, di samping mempelajari ilmu yang canggih-canggih. Ilmu science itu kan muncul dari basis peradaban dan basis kebudayaan. Basisnya dulu adalah humaniora dan melalui itulah manusia memiliki kemampuan berpikir, berkreasi, bercita-cita, dan berimajinasi, maka tumbuh penciptaan. Oleh karena itulah, humaniora tetap memegang peranan penting," .
Kini,  generasi muda kurang memiliki ruang dan kesempatan untuk berimajinasi. Yang ada hanya ingin serba cepat tanpa proses. Akhirnya, hanya menjadi pemakai dan pengekor teknologi. "Sejarah muncul dari penciptaan-penciptaan," . Untuk itulah, ruang untuk menjadi kreatif itu yang perlu dibangun, ruang untuk berimajinasi. Sebuah ruang yang banyak dimiliki masa lampau yang dibangun melalui ilmu humaniora. Sejarah telah mengajarkan, maka belajarlah dari sejarah.

a.    Sejarah Memimpin Diri Sendiri
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Ataukah mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya?”
(An-Nisa’: 54)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَلاَ تَحَاسَدُوا“
Janganlah kalian saling iri dan dengki.”
(HR. Muslim)
Dalil-dalil di atas menunjukkan haramnya hasad (iri dan dengki). Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk bersungguh-sungguh menjaga dirinya dari penyakit tersebut, serta khawatir dirinya akan terjatuh padanya. Juga senantiasa berupaya membersihkan diri darinya. Karena hasad itu sangat tersembunyi di dalam jiwa, sewaktu-waktu bisa muncul dan membinasakan dirinya bahkan bisa menghancurkan persahabatan dan persaudaraan yang telah terjalin. Sehingga dari iri hati dan dengki itu, akan melahirkan sifat su’udzan (buruk sangka) terhadap orang lain. Sehingga pada titik lemahnya, dia pun akan berbuat fitnah terhadap siapapun yang dia merasa iri dan dengki terhadapnya terlebih dia mempunyai kepentingan karena merasa tersaingi….naudzubillahi min dzalik. Dan itu bisa dan telah terjadi diantara kita sebagai sahabat sendiri….Astaghfirullah al Adzim.

Oleh karena itulah, kebanyakan orang menolak (tidak mau menerima) kebenaran apabila orang yang membawa kebenaran itu adalah orang yang dianggap sederajat dengannya. Padahal dia akan menerima kebenaran tersebut kalau yang menyampaikan adalah gurunya atau orang yang lebih tinggi darinya.
Abu Hatim Ibnu Hibban rahimahullahu berkata:
“ Kebanyakan hasad (iri dan dengki) itu terjadi di antara aqran (orang-orang yang seumur, sekelas, seprofesi). Orang-orang yang sama profesinya, seperti para penulis, tidak akan hasad kepadanya kecuali para penulis juga. Sebagaimana para hafizh itu tidak akan hasad kepadanya kecuali para hafizh pula. Dan seseorang tidak akan mencapai suatu kedudukan dari berbagai kedudukan dunia kecuali dia pasti akan mendapati orang yang membenci dirinya karena kedudukan tersebut (karena iri dan dengki kepadanya). Maka, orang yang hasad adalah lawan yang senantiasa berusaha menentang.”
(Raudhatul ‘Uqala, hal. 136)
Asy-Syaukani rahimahullahu berkata:
“Di antara sebab yang menghalangi seseorang bersikap inshaf (adil dan ilmiah) adalah apa yang terjadi di antara orang-orang yang berlomba-lomba mendapatkan keutamaan di antara aqran (selevel). Hal itu terjadi pula dalam urusan kepemimpinan dunia maupun agama. Maka apabila setan telah mengembuskan (api hasad) pada dirinya, persaingan pun semakin sengit, sampai pada suatu tingkatan yang bisa menjerumuskan masing-masingnya untuk menolak segala sesuatu yang dibawa oleh lawannya (walaupun berupa kebenaran yang sangat jelas).
Dalam perseteruan ini, sungguh kita menyaksikan dan mendengarkan peristiwa-peristiwa yang mengherankan yang dilakukan oleh segolongan orang-orang yang berilmu layaknya perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Mereka menolak kebenaran yang dibawa pihak lawannya serta membantah dengan cara yang batil.”
(Adabuth Thalib, hal. 91-92)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata: “Kesimpulannya, hasad adalah akhlak yang tercela. Yang sungguh memprihatinkan adalah bahwa kebanyakan hasad tersebut terjadi di antara para ulama dan thalabatul ilmi (penuntut ilmu). Terjadi pula hasad di antara para pedagang. Orang-orang yang memiliki profesi yang sama akan hasad terhadap orang-orang yang seprofesi dengannya. Namun yang paling memprihatinkan adalah hasad di antara para ulama lebih dahsyat. Hasad di antara para penuntut ilmu juga lebih dahsyat. Padahal semestinya orang-orang yang berilmu adalah orang yang paling jauh dari penyakit ini. Mereka mestinya adalah orang yang paling baik akhlaknya.
(Kitabul ‘Ilmi, hal. 74)
Al-Allamah Abdurrahman Al-Mu’allimi rahimahullahu berkata:
“ Hasad itu hakikatnya adalah apabila orang lain yang menerangkan kebenaran, maka dia (orang yang dalam hatinya ada iri dan dengki) menganggap bahwa bila dia meyakini kebenaran tersebut berarti dia mengakui kelebihan ilmu dan keutamaan orang itu, serta mengakui kebenaran yang ada pada diri orang tersebut. Sehingga akan semakin membesarkan kewibawaannya di mata umat. Barangkali orang yang mengikuti dia akan semakin banyak. Sungguh engkau akan dapati sebagian orang yang berambisi menyalahkan orang lain adalah dari kalangan ulama, walaupun dengan cara yang batil sekalipun. Hal itu terjadi karena kedengkiannya dan upaya menjatuhkan kedudukannya di mata umat. Kebanyakan terjadinya saling iri dan dengki itu adalah di antara orang-orang yang seusia, sederajat, seprofesi, atau sekelas (agran dari kalangan penuntut ilmu).”
(At-Tankil, 2/190)
b.    Memitivasi Diri
penuh hikmah, renungan hidup penuh manfaat, renungan hati penuh makna, renungan malam penuh tujuan, renungan harian penuh arti,  renungan cinta menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang, renungan Islam penuh berkah, karena renungan adalah sarana yang tepat untuk introspeksi diri, karena renungan bisa sebagai motivasi hidup, dan untuk inilah aku tulisakan catatan renungan hidupku sebagai pengingat diri. Di keheningan malam ini, saat bulan purnama menyinari bumi, aku merasa ingin sekali menuliskan sesuatu tentang catatan renunganku saat sepertiga malam ini. Semoga catatan renungan ini banyak membawa hikmah dan manfaat untuk diri sendiri, keluarga dan tak lupa untuk  sahabat-sahabatku. Dan sebagai pedoman hidupku bahwa renungan adalah awal dari petualangan dan perjalanan  hidup, bukan sebagai akhir dari usaha dan ikhtiar kita.
Setiap orang akan berbeda dalam menyikapi berbagai gejolak hidupnya. Menyikapi hidup dan kehidupan terkadang gampang-gampang susah. Gampang untuk bicara, susah untuk dijalankan. Adakalanya kita bisa berpikiran jernih sehingga semuanya nampak indah, dan adakalanya hati kita dalam keadaan  gelap sehingga keluh kesah pun tak dapat dihindari.  Keluh kesah dan ketenangan silih berganti menyelimuti perjalanan hidup kita. Dan semuanya sudah menjadi hukum Allah bahwa kehidupan ini memang selalu berputar dan berpasang-pasangan, yang menjadikannya sebagai ujian, pelajaran, cobaan dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.
Manusia dengan perbedaan cara pandangnya, selalu menanti kehadiran masa-masa yang tenang sehingga bisa menjadikannya sebagai sebuah kebahagiaan dan ketentraman yang dalam. Masa-masa yang tenang ini akan sangat berdampak pada penjernihan akal dan pikiran manusia.  Tetapi tidak sedikit pula manusia yang dapat merasakan ketenangan hati dengan tidak terpengaruh tempat dan waktu.  Bagi mereka, suasana ramai maupun sepi, malam ataupun siang, semuanya sama karena sudah terpancar sinar ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Sungguh beruntung orang yang memiliki tipe seperti itu.
Lain dengan mereka, lain pula dengan diriku. Aku termasuk orang yang sangat menikmati kesunyian malam. Bagiku, suasana malam menjelang pagi adalah masa-masa yang selalu indah untuk aku nikmati, sungguh suasana yang sangat menenggelamkan segala kegelisahan dan kekacauan pikiranku. Teringat akan masa lalu yang penuh kebahagiaan bersama orangtua dan saudara kandungku, teringat akan masa kecilku saat bermain bersama sahabat-sahabatku, teringat masa penuh keceriaan bersama kawan-kawanku semasa sekolah. Terkadang semuanya membuat hati larut dalam kerinduan yang dalam.

Aku semakin percaya bahwa memang benar Allah memuliakan sepertiga malam terakhir bagi orang-orang yang hendak beribadah kepada-Nya. Saat itulah diri kita merasa sendirian kecuali Sang Khalik yang selalu terjaga dan menemani kita. Saat itulah diri kita merasa bukanlah apa-apa, terlalu kecil diri kita dihadapan Allah tetapi akan menjadi mulia bila kita mampu bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Ketenangan dan kedamaian hatiku terasa memuncak manakala aku mendapatkan sepertiga malam yang penuh keberkahan dan ampunan-Nya. Tiada waktu yang paling indah bagiku kecuali di sepertiga malam terakhir itu.
Dan alangkah beruntungnya jika kita bisa memanfaatkan sepertiga malam itu untuk melakukan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan kita, memohon ampunan-Nya serta mensyukuri atas segala karunia-Nya. Akan tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah, tentunya tidak akan pernah terlepas dari godaan syaitan laknatullah. Mereka menggoda manusia untuk malas bangun malam, mereka lebih menyukai manusia yang tertidur lelap dengan mimpi indahnya, mereka senang bila manusia tertidur pulas dengan selimut hangatnya. Itulah tipu daya syaitan laknatullah agar manusia tidak mengambil keuntungan besar dari sepertiga malamnya.
Segala kondisi adalah tantangan dan setiap masa adalah cobaan, namun di balik itu terdapat hikmah yang besar untuk orang-orang yang berpikir. Berpikir untuk menjawab semua tantangan, berpikir untuk teguh dalam menghadapi cobaan. Namun bagiku kesunyian malam tetaplah sebuah ketenangan yang sesungguhnya, penuh hikmah dan pahala. Lain orang lain pula cara mencari ketenangannya, dan aku selalu berharap mendapatkan ketenangan di kesunyian malam yang berujung kebahagiaan di panasnya siang.
c.    Luangkan Diri untuk Berfikir Hari Ini atau Tidak Sama Sekali
Berfikirlah hari ini atau tidak sama sekali
Kata-kata motivasi ini, Sebuah kata-kata motivasi hidup yang sederhana sebagai pengingat diri dan mudah-mudahan bermanfaat untuk yang lainnya. Dan juga mengisi motivasi  makna hidup yang masih perlu untuk di kaji dan dipalajari..
Marilah kita memanfaatkan waktu kita dengan sebaik-baiknya dengan mulai berfikir, merenung, berintrospeksi diri, memotivasi diri sendiri akan hal positif atas hidup dan kehidupan kita. Seseorang akan terus berkembang jika ia selalu memikirkan langkah terbaik dalam hidupnya sesuai kemampuannya.
Berfikirlah hari ini demi hari esok yang lebih baik. Pikirkan apa yang seharusnya kita pikirkan dan jangan pikirkan apa yang semestinya tidak perlu kita pikirkan, karena waktu sangat berharga untuk memikirkan sesuatu. Berpikirlah positif karena ia akan menjadi motivasi terkuat dalam diri dan hidup kita. Jangan pernah berfikir negatif karena ia akan menjadi penghambat rencana kita. Tapi pikirkanlah dampak terburuk dari apa yang akan kita lakukan agar kita selalu berhati hati dalam,bertindak. Apalagi melihat sejarah kebelakang yang penuh kelam dan bias dijadikan menumbuhkembangkan semangat menuju masa depan yang lebih baik..

Renungkanlah perjalanan hidup kita hari ini demi langkah hidup yang lebih tertata rapi. Renungkan apa yang semestinya kita renungkan tapi jangan renungkan kegagalan kita hari ini sebagai keterpurukan. Dan adalah yang terbaik menyiasati kegagalan itu sebagai pelajaran dan cambuk agar diri kita tidak gegabah dalam bersikap juga tidak menyimpang dari jalur rencana hidup kita. Jadikanlah renungan sebagai sarana mengevaluasi diri sampai sejauh mana konsistensi kita terhadap rencana yang telah kita buat dengan perbuatan nyata yang kita lakukan.
Berfikirlah dan merenunglah hari ini atau tidak sama sekali.
Tidak perlu berfikir dan merenung jika kita masih mencintai jalan di tempat. Tidak perlu berfikir dan merenung jika kita merasa inilah hari tersukses dalam hidup kita. Tidak perlu berfikir dan merenung jika kebaikan dan kesempatan hari esok akan dibiarkan berlalu begitu saja. Tidak perlu berfikir dan merenung jika masa depan kita tidak menjadi prioritas hidup kita. Maka berfikirlah serta merenunglah apa yang ingin kita raih, apa yang ingin kita gapai, apa yang ingin kita genggam dan terakhir sampaikan ia dalam do’a kita kepada Sang Khalik yang Maha Mengetahui hal terbaik dalam hidup dan kehidupan kita. Dan sejarah kehidupan masa lalu akan dipinta pertanggung jawabannya.
Cukupkah hanya dengan berfikir dan merenung tentang hari esok yang lebih baik? Ternyata TIDAK, ada hal yang bisa jadi kita lewatkan yang bahkan ia adalah sebagai kendaraannya, yaitu BERBUAT DALAM TINDAKAN NYATA. Karena semuanya akan menjadi SIA-SIA jika kita hanya berfikir dan merenung serta berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla tanpa ada tindakan nyata yang dilakukan.
Maka motivasilah diri kita dengan segenap pikiran kita, dengan segenap kemampuan kita, dengan segenap keahlian kita, dengan apapun yang kita bisa. Belajarlah dari alam, belajarlah dari setiap perkataan, belajarlah dari setiap perbuatan, belajarlah dari hal-hal kecil, karena dengan belajar kita akan semakin mengetahui kebodohan dan kekurangan diri kita.
d.    Bawalah cinta menuju kebahagiaan hakiki
Menuju kebahagiaan dan keberkahan hidup  tentang perjalanan kisah cinta dan kasih sayang orang shaleh dan shalehah. Pada postingan sebelumnya yaitu tentang cerita dan kisah cinta dalam sekuntum cinta pengantin surga yang lebih menitikberatkan pada gambaran cinta dari segi agama., makna hidup ingin berbagi tentang tips cinta menuju kebahagiaan dan keberkahan hidup (insya Alah Ta’ala) yang lebih mendekati pada hubungan cinta sesama manusia atau pendekatan dari segi kehidupan manusia.
Apakah kita telah mendapatkan arti cinta dan makna cinta sejati yang sesungguhnya? Apakah kita mengerti arti cinta sejati yang setiap orang dambakan dalam hidup dan kehidupannya? Pada pandangan agama Islam, cinta sejati hanyalah milik Allah dan apabila ada yang harus kita cintai, maka Allah lah yang pertama wajib kita cintai. Tak ada kata yang perlu terucap, tak ada kalimat yang perlu disuarakan, karena cinta sejati mutlak hanyalah milik Allah. Namun kita harus bersyukur tatkala Allah anugerahkan pada diri kita mahabbah “Kecintaan” serta kasih sayang terhadap manusia sehingga hal itu bisa membawa manusia pada kebahagiaan dan kedamaian hidup.
Begitu indah hidup ini terasa jikalau cinta telah hinggap dalam hati sanubari seseorang. Kata “Cinta” mempunyai banyak arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Makna hidup mengartikan cinta secara sederhana yaitu sebagai suatu perasaan hati yang merupakan ekspresi dari batin seseorang terhadap sesuatu hal yang membuat hatinya merasa tertarik, suka dan terpikat terhadap apa yang ia lihat, dengar serta rasakan. Sehingga arti cinta itu sendiri bagi seseorang adalah sebagai suatu perasaan hati dan ungkapan jiwa yang paling dalam sehingga sangat perlu dijaga apabila kita ingin hal itu selalu berada dalam harapan dan impian kita.

Dalam banyak hal, cinta bisa membawa arah kehidupan manusia, tergantung ia bawa kemana perasaan cinta itu. Dalam artikel kali ini makna hidup ingin berbagi sesuatu dengan  semua yaitu tentang tips sederhana agar cinta membawa ketenangan, keberkahan dan kebahagiaan yang hakiki…insya Allah Ta’ala.  makna hidup membatasi bahasan cinta dalam hubungannya manusia dengan manusia lainnya saja.
1. Cintailah apa yang Anda cintai dengan ikhlas dan ketulusan hati.
Ikhlas dalam mencintai seseorang merupakan syarat utama dalam proses mendapatkan keberkahan dan kenikmatan yang tiada tara. Dengan ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu, akan menjaga perasaan cinta itu menjadi tetap sehat, baik dan kuat. Kokohnya perasaan cinta adalah sebuah perjalanan hati yang didasari pada keikhlasan. Tanpa keikhlasan, maka semuanya tak akan mendapatkan apapun melainkan hanyalah penyesalan dan kekecewaan suatu saat nanti.
2. Bersikap jujur dan apa adanya dalam menyikapi perasaan cinta.
Kejujuran merupakan perbuatan yang dapat memperkokoh perasaan cinta yang tumbuh dalam hati. Dengan bersikap jujur, maka seseorang akan merasakan manisnya cinta, sedangkan kebohongan merupakan bom waktu yang setiap saat akan meledak. Kejujuran ini merupakan bentuk sikap yang didasarkan pada perilaku hati seseorang dalam menyikapi apa yang ia cintai. Sehingga bila sikap jujur telah tertanam dalam diri , dan diterapkan dalam segala hal terutama cinta terhadap manusia lainnya, maka cinta akan menjadi kebaikan yang mengundang kebahagiaan dan keberkahan dalam hidupnya.
3. Berusaha memahami tujuan utama dari cinta.
Tujuan cinta sebenarnya adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri terhadap apa yang ia sayangi. Jadi, bila tujuan cinta ini dijaga, maka harapan  untuk memiliki apa yang di cintai akan lebih dekat, namun bila  tidak memahami tujuan cinta ini, maka ia akan menjadi perasaan yang tiada arti bagi diri sendiri dan menjadikan harapan  semakin jauh dari kenyataan apalagi sampai pada tahap keberkahan dan kebahagiaan.
4. Menghargai cinta sebagai anugerah terindah dalam hidup.
Cinta sebenarnya anugerah terindah dari Allah SWT.dan cinta Allah terhadap hambanya 70 kali lipat dengan cintanya ibu kita yang melahirkan, begitu Maha sayang dan Maha CintaNya Allah terhadap yang dicintaiNya. kepada manusia, agar manusia bisa menikmati segala sesuatu yang ada di sekitar kehidupannya. Bila  menganggap cinta sebagai anugerah terindah dari Tuhan, maka semestinya  akan memperlakukan anugerah itu dengan sebaik-baiknya. Cinta perlu dijaga dan dirawat agar membawa kebaikan dan kebahagiaan pada kita. Hargailah cinta, karena ia akan membawa kita pada keberkahan hidup yang sesungguhnya!. Perlu diingat dalam segala hal kita perlu bantuan AllahSWT , Untuk berbuat dosa sekalipun kita membutuhkan bantuan Allah Swt.
5. Hendaknya  jangan menjadikan cinta sebagai sarana permainan semata dan tindakan bersenang-senang saja.
Cinta itu suci dan cinta akan menjadikan si pemiliknya menjadi mulia manakala ia tidak menjadikan cinta sebagai sarana mempermainkan hati seseorang, atau hanya untuk bersenang-senang saja. Bila sahabat melakukan ini, maka suatu saat nanti  akan merasakan cinta itu sebagai suatu perasaan hati yang hampa dan jiwa  pun akan menjadi permainan hati  sendiri. Jangan nodai perasaan cinta dengan perbuatan-perbuatan buruk, dan jangan coba-coba untuk mempermainkan perasaan hati, karena ia akan menjadi masalah besar bagi kita  pada akhirnya..
Demikian SEJARAH KEHIDUPAN MENCARI YANG HAKIKI    yang sederhana dari makna hidup tentang hidup yang membawa pada keberkahan dan kebahagiaan hidup. Dampak persaan cinta akan  rasakan sendiri, tergantung dari apa yang dituju, harapkan serta impikan. Semoga tulisan  sederhana dari penulis makna Sejarah  hidup, dapat bermanfaat bagi kita sekalian yang ingin membawa cinta sejati menuju kebahagiaan dan ketenangan hidup kita semua , Aamin.
“Jika perkataan saya diatas benar adanya, maka itu semata-mata dari Allah Azza wa Jalla dan bila perkatan saya diatas salah, maka itulah kekurangan diri saya sebagai hamba Allah SWT yang awam lagi dhaif.”               

Bandung,  31  Oktober 2011
Penulis

Drs. Muhammad Jaja
Mayor Caj NRP. 1910005610964

PEMERINTAHAN MILITER TAHUN 1948

PEMERINTAHAN MILITER TAHUN 1948
MENEGUHKAN KEBERADAAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Oleh :  Kolonel Caj Drs Sutanto
Kasubdisbindoklistaka Disjarahad

 


A.    Pengantar
Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi momentum penting bagi titik kulminasi perjuangan Bangsa Indonesia dalam meraih cita cita menjadi negara merdeka lepas dari penjajahan dan berdiri sebagai negara merdeka.  Cita-cita  tersebut harus diraih dan ditebus dengan pengorbanan harta benda dan tenaga bahkan berkorban dengan jiwa dan raga. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat dari adanya ambisi  Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia karena dengan pengalamannya selama 350 tahun menjajah Indonesia, Belanda dapat keuntungan yang sangat besar dibandingkan tanah jajahannya di Afrika dan Amerika latin.
Dengan dibantu oleh Tentara Sekutu (Inggris) maka pada bulan september 1945 Belanda datang kembali ke Indonesia yang tergabung kedalam Netherlands Indhisce Commission Administration (NICA). Kedatangan sekutu di Indonesia tersebut disambut baik oleh pemerintah Indonesia karena tujuanya ingin membebaskan tawanan perang dan interniran sekutu, akan tetapi setelah diketahui bahwa sekutu diboncengi oleh Belanda maka bangsa Indonesia melakukan perlawanan secara serentak dan sepontan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertempuran-pertempuran segera pecah antara pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melawan tentara sekutu di berbagai tempat di Semarang, Medan, Palembang, Sulawesi, Bandung, Surabaya dan Bali serta pertempuran-pertempuran bersekala kecil lainya seperti pertempuran Bojong Kokosan.

Selengkapnya...

Selanjutnya...

Halaman 1 dari 2

Awal
Sebelumnya
1