
PERLAWANAN SUPRIYADI TERHADAP PENJAJAHAN JEPANG DI BLITAR
Diterbitkan Oleh : Dinas Sejarah Angkatan Darat, Bandung, 2009. Edisi II
“Kita sebagai bangsa yang ingin merdeka, tidak dapat membiarkan tentara Jepang terus menerus bertindak sewenang-wenang, menindas dan memeras rakyat Indonesia. Lebih baik kita mati terhormat melawan Jepang, yang sudah jelas bertindak sewenang-wenang terhadap bangsa Indonesia”. (Supriyadi 13 Februari 1945)
Sejarah “Perlawanan Supriyadi Terhadap Penjajah Jepang Di Blitar”, yang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945, merupakan peristiwa perlawanan yang dikobarkan oleh para prajurit PETA Blitar di bawah pimpinan Shodancho Supriyadi terhadap kebiadaban penjajah Jepang, merupakan peristiwa yang monumental, sarat dengan pesan moral, nasionalisme, heroism, patriotism, dan militansi keprajuritan yang diabadikan semata-mata demi terwujudnya kemerdekaan pada zaman penjajahan jepang.
Tujuan penerbitan buku semacam ini sangat diperlukan untuk menggugah dan menumbuhkan kembali rasa nasionalisme dan kebersamaan, serta semangat bela negara dan cinta tanah air masyarakat kita, yang belakangan semakin kikis dan rapuh dari waktu ke waktu selama satu dasa warsa ini. Dengan mengetahui perjuangan dan pengorbanan yang di tunjukan oleh sosok Supriyadi dalam perlawanannya terhadap penjajah Jepang di Blitar, diharapkan para pembaca dan prajurit Angkatan Darat dapat memahami para pejuang dan para pahlawan bangsa yang selama ini nyaris terlupakan.
Keberanian para tentara PETA Blitar, yang dikomandoi Supriyadi melawan Jepang, telah menginspirasi timbulnya berbagai perlawanan sejenis dari para tentara PETA di daerah lainnya, seperti PETA Gumilir-Cilacap, PETA Cileunca Pengalengan-Bandung, PETA Rengasdengklok kemudian PETA Jakarta. Perlawanan PETA tersebut merupakan kekuatan moral bagi para pemimpin bangsa untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu, juga mendorong keberanian rakyat untuk melucuti senjata tentara Jepang menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.