image image image image image
Monumen Jogya Kembali
Museum Sasmitaloka Jendral AH. Nasution
Museum Sasmitaloka Jenderal A. Yani
Museum Pusat Angkatan Darat
Museum dan Monumen Peta
Monumen Jogya Kembali Jumat, 12 Agusut 2011 07:11 Dalam menyusun buku sejarah mutlak diperlukan sejumlah data atau fakta yang akurat. Data atau fakta yang akurat ditafsirkan secara obyektif dengan berusaha menghindarkan diri dari kepentingan tertentu. Salah satu peristiwa sejarah yang masih terdapat kontroversi adalah peristiwa serangan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta yang telah juga didirikan Monumen Yogya Kembali (Monjali), untuk mengenang peristiwa tersebut telah ditulis biografi dari salah satu pelaku/tokoh dalam peristiwa tersebut.
Museum Sasmitaloka Jendral AH. Nasution Minggu, 22 Agusut 2010 15:05
Museum Sasmitaloka Jend. Besar Dr. A.H. Nasution Jl. Teuku Umar No. 40 Kelurahan Gondangdia Kecamatan Menteng Jakarta Pusat. Museum ini semula merupakan kediaman Pak Nasution beserta keluarganya ketika menjabat sebagai Kasad 1949 hingga wafat pada tanggal 6 September 2000. Dikediaman inilah beliau telah menghasilkan sebuah karya juang yang dipersembahkan pada bangsa dan Negara.
Museum Sasmitaloka Jenderal A. Yani Kamis, 24 Juni 2010 21:41 Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jend. A. Yani Jl. Lembang No. D. 58 Menteng Jakarta Pusat Gedung ini semula kediaman, Pahlawan Revolusi Jenderal A. Yani diabadikan sebagai Sasmitaloka dengan tujuan disamping sebagai tempat mengenang seorang prajurit TNI AD yang berjasa terhadap Nusa dan bangsa Indonesia juga sebagai sarana informasi kepada generasi muda khususnya prajurit TNI AD untuk senantiasa waspada dan siaga akan bahaya paham komunis / PKI
Museum Pusat Angkatan Darat Kamis, 11 Juni 2009 06:12   Museum Pusat TNI Angkatan Darat "Dharma Wiratama" yang kini menjadi salah satu bagian dari Dinas Sejarah Angkatan Darat, adalah merupakan hasil validasi dari Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat pada tanggal 5 Nopember 2008, sesuai dengan Peraturan Kasad Nomor Perkasad/25/V/2008 tanggal 6 Mei 2008.
Museum dan Monumen Peta Senin, 13 Juni 2011 15:53   Museum dan Monumen Peta Jl. Jend. Sudirman No. 35 Bogor Museum ini semula tempat Markas Tentara KNIL (Konid Klijlk Nederland Indisch Leger). Pada tahun 1943 tanggal 3 Oktober didirikan Pusat Pendidikan Perwira, Tentara Sukarela Pembela Tanah Air dan telah berhasil mendidik 5 angkatan sebanyak 1609 Pa yang terdiri dari Danton (Shodancho), Danki (Chodancho), dan Danyon (Daidancho).

BELAJAR DARI SEJARAH KEPRAJURITAN BANGSA INDONESIA

BELAJAR DARI PERSPEKTIF SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA UNTUK MENUMBUHKAN SEMANGAT KEPRAJURITAN TNI
MASA KINI DAN MASA DEPAN

0leh : Kolonel Caj Drs. Sutanto Kasubdisbindoklistaka, Disjarahad


A.    Pengantar
Berbicara seputar pentingnya sejarah bagi kehidupan manusia atau  suatu bangsa, para tokoh-tokoh bahkan para pemimpin bangsa telah banyak berpesan kepada generasi penerus bangsa untuk tidak melupakan dan meninggalkan sejarah. Tidak usah jauh-jauh, pesan ini datang dari Bung Karno Presiden RI pertama dan dari Jenderal kehormatan Djatikusumo Kasad Pertama. Cukuplah kedua tokoh ini mewakili pesan dari sekian banyak tokoh dan para ahli yang menekankan betapa pentingnya sejarah bagi suatu bangsa.
Bung Karno dalam pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1966 mengatakan “Never Leave History!”  yang mengandung arti jangan sekali kali meninggalkan Sejarah, karena bila kita meninggalkan sejarah kita akan berdiri di tempat Vacum atau kosong, tidak tahu harus berbuat apa kemudianred menjadi bengong seperti kera terjepit di dalam kegelapan. Sedangkan Jenderal kehormatan Djatikusumo berpesan ”Jangan memimpin/menjadi pemimpin kalau tidak tahu sejarah”. Dari kedua pendapat tokoh tersebut, telah memberikan gambaran betapa besarnya peranan sejarah bagi kehidupan suatu bangsa. Masih banyak pendapat para ahli tentang pentingnya sejarah seperti : Sejarah adalah guru yang baik, tak seorangpun manusia yang dapat lepas dari sejarah, dari sejarah kita dapat menjadi arif dan bijaksana.
Perspektif Sejarah mengandung pengertian cara pandang atau tinjauan sejarah yang mengandung unsur tiga dimensi yaitu dimensi masa lalu, dimensi masa kini dan dimensi masa depan. Masa depan bertumpu pada masa sekarang, masa sekarang berakar pada masa lampau. Dengan demikian perspektif Sejarah merupakan rangkaian yang utuh dari perjalanan demensi tersebut.
Dari perspektif sejarah tersebut menampilkan simpul-simpul peristiwa sejarah dalam dimensi waktu, khususnya yang berkaitan dengan perkembangan semangat dan jiwa keprajuritan Bangsa Indonesia, dapat kita ambil sebagai pembelajaran khususnya bagi TNI guna menumbuhkan dan memupuk semangat keprajuritan pada masa kini dan masa depan dalam upaya untuk meningkatkan semangat juang dan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara Republik Indonesia.

Selengkapnya...

Kadisjarahad

Brigadir Jenderal TNI Marsono

Buku Terbitan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8

Pengunjung Online

We have 3 guests online